Ruh di Balik Kemenangan Islam

Untuk memperbaiki moral dan mental-spiritual negara seperti Indonesia, kepada siapa lagi kalau tidak  merujuk pada metode Allah dan Rasul-Nya? Pernahkah Anda memikirkan pasukan Nabi SAW berjumlah 300 orang akan mengalahkan pasukan Quraisy berjumlah 1000 orang di Perang Badar?

Kemenangan Nabi SAW dan para sahabatnya di Perang Badar dilatarbelakangi ruh yang mampu mengendalikan nafsu, bukan sekadar ketrampilan fisik dalam berperang. Ruh tersebut tidak hanya bersemayam dalam diri Nabi SAW, tapi juga diri pasukan yang bertempur bersama beliau. Ruh tersebut bernama keikhlasan. Dalam perang tersebut, Nabi SAW dan para sahabat hanya mencari ridha Allah SWT. Bukan dunia dalam bentuk harta, kedudukan dan wanita yang mereka cari. Tak ada yang mereka cari melainkan Allah; tak ada yang mereka tuju melainkan Allah; tak ada yang diibadahi melainkan Allah; tak ada yang wujud melainkan Allah. Baca lebih lanjut

Iklan

Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq ra 11-13 H (632-634 M)

Abu Bakar adalah gelar yang diberikan Rasulullah SAW. Abu Bakar berarti “bapak yang sejak awal (masuk Islam).” Nabi SAW juga memberikan gelar kepadanya “As-Shiddiq”, yang artinya amat membenarkan. Sebab, Abu Bakar membenarkan Isra’ dan Mi’raj yang dialami Rasulullah SAW. Nama aslinya, Abdullah bin Abu Quhafah At-Tamimi. Abdullah adalah nama pemberian Nabi SAW. Nama jahiliyahnya Abdul Ka’bah. Baca lebih lanjut

Pertemuan di Arafah dan Mina

Usai Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah pada 9 H, Rasulullah SAW sibuk menerima utusan dari berbagai daerah. Beliau mengutus Abu Bakar As-Shiddiq untuk memimpin 300 jamaah bertolak ke Makkah. Rasulullah SAW pun  merasa bahwa ibadah haji hanya khusus dilakukan orang Muslim, orang musyrik mulai dilarang untuk beribadah haji dengan telanjang.

Rasulullah SAW mengutus Ali guna menyusul Abu Bakar, dengan tugas menyampaikan pesan bahwa orang musyrik mulai dilarang beribadah haji. Ali berada di samping Abu Hurairah seraya menyampaikan pesan dengan mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an Surat At-Taubah: 1-36.

Tahannuts

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Menciptakan… (Al-‘Alaq: 1)

Sehabis kelahiran putri Muhammad, Ummu Kultsum, banjir besar menerjang Makkah sehingga sebagian dinding Ka’bah rusak. Kabilah-kabilah Arab sepakat membangun dinding Ka’bah yang rusak tersebut.

Ketika tiba saatnya meletakkan Hajar Aswad, sebagai tempat paling terhormat di Ka’bah, antarkabilah bersitegang. Mereka saling berebut peran yang akan meletakkan Hajar Aswad. Seorang sesepuh Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi berinisiatif bahwa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad adalah orang yang pertama kali melewati Babus Salam (Pintu Salam) Masjidil Haram. Muhammad yang pertama kali melewati pintu ini. Baca lebih lanjut

Perang Tabuk

Pasukan Rumawi berkumpul untuk menumpas Islam di Tabuk, sebelah utara Jazirah Arab. Perang Tabuk sebagai mata rantai perang Mu’tah.   Dalam peperangan ini cuaca di Jazirah Arab sedang memuncak panasnya dan suasana panen kurma. Belum hilang ingatan dari pasukan Islam yang kalah dalam perang Mu’tah melawan pasukan Rumawi yang berjumlah besar, dengan peralatan tempur jauh lebih canggih. Belum lagi letak antara Madinah dan Tabuk begitu jauh sehingga perjalanan yang jauh ini menguras tenaga pasukan Islam. Baca lebih lanjut

Perang Mu’tah

Perang Mu’tah terjadi pada 8 H di desa Mu’tah, sebelah utara Jazirah Arab. Perang ini melibatkan pertarungan antara pasukan Islam dan Rumawi. Selama masa perjanjian perdamaian antara Nabi SAW dan kaum Quraisy, umat Islam mendapatkan kesempatan memperluas pengaruhnya. Kesempatan ini dimanfaatkan Nabi SAW dengan cara mengirimkan surat kepada para raja dan pemimpin yang belum bersimpati   pada Islam. Dalam surat tersebut dijelaskan tentang prinsip-prinsip Islam.

Para duta pembawa surat Nabi SAW, antara lain Al-Harits bin Umar Al-Azdi yang diutus kepada Raja Bani Ghassan. Utusan Nabi SAW ini dibunuh Bani Ghassan, bahkan mereka mengejek beliau. Umat Islam pun mengadakan pembalasan sepadan. Baca lebih lanjut