Bila Kemenangan Telah Tiba

“Bila telah tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam naungan agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Setahun setelah menunaikan Haji Wada’, Rasulullah SAW sakit. Namun, beliau tetap menunaikan tugas kepemimpinan negara. Beliau berziarah ke Uhud guna mendoakan para syuhada yang dimakamkan di tempat tersebut. Baca lebih lanjut

Iklan

Ruh di Balik Kemenangan Islam

Untuk memperbaiki moral dan mental-spiritual negara seperti Indonesia, kepada siapa lagi kalau tidak  merujuk pada metode Allah dan Rasul-Nya? Pernahkah Anda memikirkan pasukan Nabi SAW berjumlah 300 orang akan mengalahkan pasukan Quraisy berjumlah 1000 orang di Perang Badar?

Kemenangan Nabi SAW dan para sahabatnya di Perang Badar dilatarbelakangi ruh yang mampu mengendalikan nafsu, bukan sekadar ketrampilan fisik dalam berperang. Ruh tersebut tidak hanya bersemayam dalam diri Nabi SAW, tapi juga diri pasukan yang bertempur bersama beliau. Ruh tersebut bernama keikhlasan. Dalam perang tersebut, Nabi SAW dan para sahabat hanya mencari ridha Allah SWT. Bukan dunia dalam bentuk harta, kedudukan dan wanita yang mereka cari. Tak ada yang mereka cari melainkan Allah; tak ada yang mereka tuju melainkan Allah; tak ada yang diibadahi melainkan Allah; tak ada yang wujud melainkan Allah. Baca lebih lanjut

Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq ra 11-13 H (632-634 M)

Abu Bakar adalah gelar yang diberikan Rasulullah SAW. Abu Bakar berarti “bapak yang sejak awal (masuk Islam).” Nabi SAW juga memberikan gelar kepadanya “As-Shiddiq”, yang artinya amat membenarkan. Sebab, Abu Bakar membenarkan Isra’ dan Mi’raj yang dialami Rasulullah SAW. Nama aslinya, Abdullah bin Abu Quhafah At-Tamimi. Abdullah adalah nama pemberian Nabi SAW. Nama jahiliyahnya Abdul Ka’bah. Baca lebih lanjut

Pertemuan di Arafah dan Mina

Usai Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah pada 9 H, Rasulullah SAW sibuk menerima utusan dari berbagai daerah. Beliau mengutus Abu Bakar As-Shiddiq untuk memimpin 300 jamaah bertolak ke Makkah. Rasulullah SAW pun  merasa bahwa ibadah haji hanya khusus dilakukan orang Muslim, orang musyrik mulai dilarang untuk beribadah haji dengan telanjang.

Rasulullah SAW mengutus Ali guna menyusul Abu Bakar, dengan tugas menyampaikan pesan bahwa orang musyrik mulai dilarang beribadah haji. Ali berada di samping Abu Hurairah seraya menyampaikan pesan dengan mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an Surat At-Taubah: 1-36.

Perang Tabuk

Pasukan Rumawi berkumpul untuk menumpas Islam di Tabuk, sebelah utara Jazirah Arab. Perang Tabuk sebagai mata rantai perang Mu’tah.   Dalam peperangan ini cuaca di Jazirah Arab sedang memuncak panasnya dan suasana panen kurma. Belum hilang ingatan dari pasukan Islam yang kalah dalam perang Mu’tah melawan pasukan Rumawi yang berjumlah besar, dengan peralatan tempur jauh lebih canggih. Belum lagi letak antara Madinah dan Tabuk begitu jauh sehingga perjalanan yang jauh ini menguras tenaga pasukan Islam. Baca lebih lanjut

Perang Mu’tah

Perang Mu’tah terjadi pada 8 H di desa Mu’tah, sebelah utara Jazirah Arab. Perang ini melibatkan pertarungan antara pasukan Islam dan Rumawi. Selama masa perjanjian perdamaian antara Nabi SAW dan kaum Quraisy, umat Islam mendapatkan kesempatan memperluas pengaruhnya. Kesempatan ini dimanfaatkan Nabi SAW dengan cara mengirimkan surat kepada para raja dan pemimpin yang belum bersimpati   pada Islam. Dalam surat tersebut dijelaskan tentang prinsip-prinsip Islam.

Para duta pembawa surat Nabi SAW, antara lain Al-Harits bin Umar Al-Azdi yang diutus kepada Raja Bani Ghassan. Utusan Nabi SAW ini dibunuh Bani Ghassan, bahkan mereka mengejek beliau. Umat Islam pun mengadakan pembalasan sepadan. Baca lebih lanjut

Haji Wada’

Pada 10 H Nabi SAW melaksanakan haji wada’ (perpisahan), diikuti sebanyak 100.000 umat Islam. Di hadapan mereka Nabi SAW menyampaikan pidato yang intinya bahwa beliau telah menyampaikan Islam dengan sempurna. Sebagian isi pidato sebagai berikut.

“Wahai manusia! Dengarkanlah, aku tidak dapat menjamin apakah aku akan dapat bertemu dengan kalian di tempat semacam ini setelah tahun ini. Wahai manusia! Sesungguhnya darahmu terjaga dan hartamu terjaga, kecuali ada suatu sebab (sehingga boleh ditumpahkan darahmu dan diambil hartamu). Semua riba telah dihapus dan hanya pokok harta (yang harus dikembalikan kepada pemodal). Dengan hanya pokok harta, berarti kalian tidak menganiaya dan tidak dianiaya. Pembunuhan yang dilakukan di masa jahiliyah, tidak dituntut ganti rugi.” Baca lebih lanjut