Ilmu Alat Untuk Mempelajari Agama Islam

Belajar agama (Islam) punya tujuan memperbaiki jasmani dan rohani bagi pelakunya. Maka kegiatan ini harus ada alat-alatnya, atau ilmu alat.  Karena sumber Dienul Islam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbahasa Arab, maka diperlukan ilmu alat untuk membongkarnya. Artinya, membongkar isinya agar dipelajari dan diamalkan. Apa ilmu alat itu?

1. Bahasa Arab, seperti nahwu, shorof, balaghah dan sebagainya.

2. Ilmu Musthalah hadits.

3. Ilmu Ushul Fiqh.

4. Ilmu Tafsir, yaitu cara menafsirkan Al-Qur’an yang standar sehingga tidak terjadi penyimpangan pemahaman. Maka diperlukan ilmu siroh Rasul.

– Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya.

-Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan Sunnah Rasul.

-Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan perkataan sahabat Rasul.

-Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan perkataan tabiin (pengikut sahabat).

-Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan kaidah bahasa Arab.

(Bersambung)

Perjanjian Nabi SAW dengan Musuh

Kronologi Perjanjian Perdamaian

“Dialah Dzat (Allah) Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa agama yang haq, dengan tujuan agar Rasul memenangkan agama di atas ajaran-ajaran yang lain, kendati orang-orang kafir membencinya.” (As-Shaff:

Enam tahun setelah Perang Ahzab, Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin rindu untuk mengunjungi Ka’bah yang merupakan kiblat shalat mereka. Baitullah sebagai tempat yang suci dan terhormat sejak sebelum datang Islam hingga masa kenabian. Dalam bulan-bulan haram dilarang mengadakan peperangan. Maka apakah salahnya jika Nabi SAW dan para sahabatnya mengunjungi Baitullah? Nabi SAW mengizinkan 10.000 orang Islam untuk mengunjungi Ka’bah. Baca lebih lanjut

Nabi SAW Menghadapi Rumawi dan Persia

Ketika terjadi pergulatan antara penganut agama baru (Islam) dan penganut agama lama (berhalaisme) di Jazirah Arab, bangsa Rumawi dan Persia menilai persoalan tersebut akan dapat diselesaikan oleh internal bangsa Arab. Namun ternyata Islam mendapat kemenangan cepat di Jazirah Arab hingga mendapatkan dukungan penuh dari penduduk negeri ini. Bahkan, Islam membawa prinsip-prinsip kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Baca lebih lanjut

Bukan Agama Pedang

Perang (qital) berlainan dengan jihad. Perang bagian dari jihad. Jihad bermakna pengorbanan harta, tenaga dan risiko nyawa demi mempertahankan dan membela agama Allah. Jihad tidak harus dengan perang, tergantung kondisi. Misalnya, jihad dalam rangka berbuat baik kepada kedua orang tua dan membangun masjid.

Tujuan perang dalam Islam adalah melindungi, membela dan mempertahankan dakwah, bukan untuk menyebarkan Islam. Sebab Islam tersebar lantaran dakwah. Allah menyatakan:

Tidak ada paksaan kepada orang lain untuk memasuki Islam. Telah nyata kebenaran dan kesesatan.  (Al-Baqarah: 256). Baca lebih lanjut

Ujian Hidup (1)

Tujuan Allah SWT menjadikan hidup dan mati adalah untuk menguji manusia. Siapa di antara mereka yang paling bagus amalannya ketika hidup di dunia.  Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia dalam beramal, yaitu berupa kitab suci yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya. Ada orang yang mau memakai petunjuk-Nya, ada pula yang menolaknya.

Tiap umat pasti ada Rasul atau pemberi peringatan, seperti Nabi Musa diutus untuk umat Bani Israil. Demikian juga Nabi Isa as. Sekarang zaman Nabi Muhammad SAW. Ujian dari Allah yang terberat dialami para nabi dan rasul. Para wali-Nya menempati ujian terberat setelah nabi dan rasul. Hal ini sesuai dengan tugas yang mereka emban. Rasul mengemban tugas paling berat, yaitu mengeluarkan kehidupan umat dari kegelapan menuju cahaya petunjuk Allah. Sedang para wali-Nya meneruskan risalah rasul. Baca lebih lanjut

Permainan Saham (1)

Betapapun hebatnya sektor moneter, ia tak dapat terlepas dengan sektor riil atau pelengkapnya. Maka seharusnya kembalikan posisi uang sebagai alat pembayaran, bukan diperlakukan sebagai komoditas. Perlakuan uang sebagai komoditas merupakan salah satu bentuk bisnis yang tidak sesuai dengan jiwa agama Islam, yaitu menekankan produktivitas. Baca lebih lanjut