Kebangkitan Islam di Negara-negara Muslim

Bagaimana kebangkitan Islam di negara-negara Muslim (mayoritas penduduknya Muslim) pascaruntuhnya kerajaan Islam dunia, Turki Utsmani pada 1924? Sudah 88 tahun (1924-2012) kaum Muslim dunia belum memiliki kekhalifahan yang berarti kepemimpinan tunggal. Jika demikian, kaum Muslim lebih buruk dari Bani Israil? Sebab, Bani Israil vakum dari kepemimpinan dunia selama 40 tahun (Al-Maidah: 26). Kini Bani Israil memiliki kepemimpinan tunggal dan bisa menguasai politik dunia?

Satu-satunya negara Muslim yang berhasil mandiri, baru Republik Islam Iran. Ada apa dengan kaum Muslim? Apakah mereka tidak mengamalkan Islam dengan standar, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya? Bagaimana gerakan-gerakan Islam di berbagai negara Muslim, seperti Mesir, Sudan, Iraq, Afghanistan dan Indonesia? Apakah minhaj harakah mereka sudah menyimpang dari ruh yang ditentukan Allah SWT?

Kini kebanyakan kaum Muslim di negara-negara Muslim menjadi Muslim dzimmy, Muslim di bawah naungan negara kafir. Muslim dzimmy calon penghuni neraka! Lebih baik kafir dzimmy, karena ada peluang masuk surga. Sebab, kafir dzimmy “mendapatkan bimbingan” dari pemerintahan yang bercahaya.

Mengapa Muslim dzimmy calon penghuni neraka? Sebab, mereka tak mau mengubah posisi nasibnya sehingga Allah pun tak hendak mengentaskan mereka dari cengkeraman kaum kafir. Muslim dzimmy selalu ditempa kegelapan yang datang dari sistem pemerintahan yang gelap, tanpa cahaya wahyu. Kalaupun Muslim dzimmy berjuang, toh itu hanya pengakuan belaka. Apakah kita termasuk Muslim dzimmy yang hanya mengaku berjuang?

Individu, Keluarga, Masyarakat dan Negara

Kebangkitan Islam dimulai dari individu. Ibda’ binafsika! Mulailah dari dirimu! Nabi SAW juga memulai mengamalkan Islam dari dirinya. Semua amal dimulai dengan keikhlasan, tanpa pamrih duniawi. Itulah kesucian jiwa. Jiwa yang suci tentu dibarengi dengan tindakan taubat dan taat kepada Allah SWT. Sucikan jiwamu sampai Allah mengisro’mi’rojkanmu. Inilah minhaj pertama.

Sembari memberikan keteladanan, Nabi SAW mengajak anggota keluarganya, seperti isteri, anak, anak angkat maupun sanak famili yang menjadi tanggungannya. Kemudian beliau mengajak famili-familinya yang lain serta teman-temannya. Diadakanlah majlis taushiyah, tazkiyah, mahkamah dan tabayyun untuk penyelesaian masalah-masalah. Inilah minhaj kedua.

Dari masjlis taushiyah, Nabi SAW berarti telah menyampaikan nasehat kepada umat. Majlis tazkiyah adalah penyucian jiwa. Jika Nabi SAW yang melaksanakan majlis tersebut, tentu hasilnya mendekati kesempurnaan. Memang yang Mahasempurna hanya Allah SWT. Majlis tazkiyah sebaiknya dibantu oleh ruh suci, artinya ruh orang-orang yang mati di jalan Allah. Mohonlah kepada Allah agar bisa berkomunikasi dengan ruh suci, sebagaimana komunikasi Nabi SAW dengan Nabi Musa ketika mi’roj di langit. Majlis mahkamah berfungsi menjatuhkan sanksi hukum atas orang yang berbuat maksiat secara lahir. Sedang majlis tabayyun berfungsi menghindarkan  kabar burung dan mendudukkan persoalan. Inilah minhaj ketiga.

Dalam berdakwah Rasulullah SAW mengedepankan sikap tawadlu’ dan nasehat yang bagus. Beliau tak pernah menggunakan kekerasan dalam berdakwah. Dalam sejarah, perang hanyalah untuk membela diri jika musuh menyerang. Ini minhaj keempat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s