Cahaya Madinah Mengalahkan Kegelapan Makkah

Cahaya Madinah mengalahkan kegelapan Makkah. Bagaimana kriteria cahaya di Madinah dan kegelapan di Makkah?

Ketika Nabi Muhammad SAW dibangkitkan menjadi Rasul, di Makkah dalam keadaan gelap. Artinya, keadaan masyarakat dan negara di Makkah tidak mendapatkan bimbingan wahyu dari Allah. Ajaran (millah) Ibrahim masih menjadi rujukan sebagian kecil orang Quraisy. Sebagian besar dari mereka merujuk ajaran campuran antara millah Ibrahim dan berhalaisme. Campuran antara millah Ibrahim dan berhalaisme menurut istilah Al-Qur’an sebagai talbis, yaitu pencampuran antara haq dan bathil. Talbis berpijak pada hawa nafsu sehingga berujung pada terget peraihan harta, tahta dan wanita.

Filosofi talbis telah menghinggapi kebanyakan negara-negara Muslim (mayoritas penduduknya Muslim) dewasa ini. Celakanya, talbis sudah menjadi aqidah atau falsafah dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kebanyakan kaum Muslim telah kehilangan tujuan hidup di dunia dan akhirat. Tujuan Muslim di dunia memainkan peran sebagai rahmatan lil ‘alamin, sedang di akhirat mendapatkan wajah Allah. Umat Muslim sudah kehilangan peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alaimin di dunia dan kini di bawah naungan neokolonialisme. kebanyakan mentalitas mereka telah membeo terhadap kolonialis. Mereka mencari jalan hidup selain wahyu. Lumrah jika Allah menghinakan mereka.

Mana ada ajaran di dunia selain Islam yang menjadi rahmatan lil ‘alamin? Setelah komunisme Soviet runtuh pada 1980-an, apakah kapitalisme Amerika yang sedang merajai dunia sekarang bisa membuktikan dirinya sebagai rahmatan lil ‘alamin?

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin telah dibuktikan Rasulullah SAW dan para sahabatnya ketika mereka berhasil membangun Madinah Al-Munawwaroh dan membebaskan Makkah dari cengkeraman kaum Quraisy. Mereka membangun Madinah dan membebaskan Makkah bukan untuk memburu kekuasaan, tapi beribadah dengan ikhlas. Ketika Makkah sudah tidak memungkinkan lagi dijadikan sebagai tempat untuk membangun agama Allah, maka Nabi SAW diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah. Sebab, di Madinah Islam memperoleh banyak dukungan dari suku Aus dan Khazraj. Nabi SAW tidak membangun istana sebagai pusat untuk menyelenggarakan pemerintahan di madinah, tapi membangun masjid sederhana. Masjid Nabawi inilah sebagai pusat ruhaniah dan kesahajaan material.

Dewasa ini masjid di negara-negara Muslim sudah beralih fungsinya, bahkan sebagain besar masjid sebagai kebanggaan belaka. Oleh karena itu jika umat Muslim rindu akan peran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, mereka harus mengganti filsafat talbis menjadi ikhlas. Ikhlas adalah membela dan mempertahankan agama Allah dengan murni. “Tiada lain mereka hanya diperintah (oleh Allah) untuk memurnikan agama-Nya, menegakkan shalat dan membayar zakat. Inilah agama yang lurus” (Al-Bayyinah: 5).

Membela dan mempertahankan agama-Nya dengan murni merupakan prioritas utama sebelum shalat dan membayar zakat. Inilah titik pangkal Islam kaffah. Ini belum dilaksanakan kebanyakan orang Islam. Bagaimana nanti jika Allah minta pertanggungjawaban kepada mereka?

Ketika berhasil membebaskan Makkah, Rasulullah SAW langsung melarang praktik riba atau memungut dan menerima bunga pinjaman modal. Sebab, riba punya ekses sebagai perbuatan zalim. Dengan keluhuran akhlaknya, Rasul juga tidak mengadakan pembalasan dendam atas musuh-musuhnya. Dengan demikian sebagian besar musuhnya bersimpati pada ajaran Islam lantaran keluhuran akhlaknya.

Sebagian besar tokoh umat Islam dewasa ini enggan menuju titik menuju Islam kaffah. Mereka lebih suka bernaung di bawah kekuasaan kapitalisme dunia dengan alasan takut mendapatkan bencana. Inilah penyakit nifaq dan pelakunya disebut munafiq. Jika penyakit ini menghinggapi para pejabat pemerintahan Muslim, mereka takut terkena sanksi ekonomi dari kapitalis Amerika atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Inilah kondisi orang-orang munafiq sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Maidah: 51-52).

Pemerintahan Muslim pun hanya melaksanakan Al-Qur’an sepotong-sepotong (Al-Hijr: 91), misalnya kebijakan pemerintah yang memisahkan antara ulama dan umaro. Ulama hanya diposisikan sebagai pemberi fatwa, tanpa memiliki kewenangan. Padahal seharusnya ulama dan umaro adalah satu kesatuan, sebagaimana kepemimpinan Nabi SAW dan para khalifah sepeninggal beliau.

Demikianlah kondisi kebanyakan pemerintahan Muslim di dunia sekarang. Pemerintahan dan rakyat yang patuh akan menjadi rugi dan menyesal di hadapan Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s