Bila Kemenangan Telah Tiba

“Bila telah tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia berbondong-bondong masuk ke dalam naungan agama Allah. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Setahun setelah menunaikan Haji Wada’, Rasulullah SAW sakit. Namun, beliau tetap menunaikan tugas kepemimpinan negara. Beliau berziarah ke Uhud guna mendoakan para syuhada yang dimakamkan di tempat tersebut.

Nabi SAW mendapat berita mengenai persiapan pasukan Romawi di perbatasan Syam yang akan menyerang umat Muslim. Beliau memerintahkan agar dipersiapkan satu batalion pasukan. Setelah itu beliau mengangkat Usamah bin Zaid yang berusia di bawah 20 tahun sebagai komandan. Usamah adalah putera Zaid bin Haritsah, salah seorang komandan pasukan yang gugur di Perang Mu’tah. Usamah belum terbiasa dengan memikul tanggung jawab yang berat, seperti komandan perang. Namun sebagai kesayangan Rasulullah SAW, Usamah memiliki keberanian tinggi dalam Perang Hunain. Maka Rasulullah SAW pun berpikir, biarlah pengangkatan Usamah sebagai komandan perang melawan pasukan Romawi akan menjadi kenangan Usamah bagi kesyahidan ayahnya di Perang Mu’tah.

Para sahabat senior mengeluhkan kebijakan Rasulullah SAW dalam mengangkat Usamah sebagai komandan perang, kecuali Abu Bakar As-Shiddiq. Pasukan Usamah pun berangkat menuju perbatasan Syam. Setibanya di Jurf, 5 km utara Madinah, pasukan Usamah senantiasa mendapatkan kabar dari ibunya, Ummu Aiman tentang kondisi kesehatan Rasulullah SAW. Sang komandan memutuskan tidak melanjutkan perjalanan dan tetap di baraknya, Jurf hingga Allah mendatangkan keputusan.

Pidato Terakhir

Dalam keadaan sakit, Rasulullah SAW mewakilkan Abu Bakar sebagai imam shalat. Ketika Abu Bakar sedang mengimami shalat, Rasulullah SAW keluar dari kamarnya menuju masjid dengan dipapah Ali bin Abu Thalib dan Abbas. Abu Bakar pun mundur, tapi Rasulullah SAW mendorongnya agar Abu Bakar tetap menjadi imam. Rasulullah SAW pun duduk di kanan Abu Bakar sebagai makmum.

Usai shalat, Rasul SAW duduk sembari berpidato agar keras hingga terdengar dari luar masjid,”Allah memberi karunia kepada hamba-Nya dua pilihan, antara dunia dan akhirat. Ia memilih akhirat.” Lalu Rasul SAW diam dan orang-orang pun diam. Namun Abu Bakar langsung memahami kata-kata tersebut, bahwa yang Rasul SAW memilih akhirat.

Dengan perasaannya yang lembut, Abu Bakar menangis seraya berkata,”Tidak, justeru angkau akan kami tebus dengan jiwa dan anak-anak kami.”

“Sabarlah, Abu Bakar!” sambung Nabi SAW.

Kemudian Rasulullah melanjutkan pidatonya,”Aku peringatkan, agar kalian berbuat baik kepada kaum Anshar. Mereka telah melaksanakan kewajiban dengan baik. Umat Islam akan bertambah, tapi kaum Anshar akan berkurang. Jadilah mereka garam dalam makanan.”

“Penderitaan telah menimpa kaum sebelum kalian yang menyembah kuburan para nabi dan orang-orang suci mereka. Aku melarang kalian melakukan hal itu. Aku banyak berutang budi oada Abu Bakar. Jika aku mau mengambil teman, maka dialah Abu Bakar. Namun, persahabatan dalam iman dan sampai Allah mempertemukan kita di sisi-Nya. Wahai anakku tersayang, Fathimah dan bibiku tersayang, Shafiyah, kerjakanlah sesuatu untuk akhirat, karena aku tidak dapat membantumu terhadap kehendak Allah.”

Demikianlah pidato terakhir Rasulullah SAW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s