Ruh di Balik Kemenangan Islam

Untuk memperbaiki moral dan mental-spiritual negara seperti Indonesia, kepada siapa lagi kalau tidak  merujuk pada metode Allah dan Rasul-Nya? Pernahkah Anda memikirkan pasukan Nabi SAW berjumlah 300 orang akan mengalahkan pasukan Quraisy berjumlah 1000 orang di Perang Badar?

Kemenangan Nabi SAW dan para sahabatnya di Perang Badar dilatarbelakangi ruh yang mampu mengendalikan nafsu, bukan sekadar ketrampilan fisik dalam berperang. Ruh tersebut tidak hanya bersemayam dalam diri Nabi SAW, tapi juga diri pasukan yang bertempur bersama beliau. Ruh tersebut bernama keikhlasan. Dalam perang tersebut, Nabi SAW dan para sahabat hanya mencari ridha Allah SWT. Bukan dunia dalam bentuk harta, kedudukan dan wanita yang mereka cari. Tak ada yang mereka cari melainkan Allah; tak ada yang mereka tuju melainkan Allah; tak ada yang diibadahi melainkan Allah; tak ada yang wujud melainkan Allah.

Ketika Rasulullah SAW mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar di bawah naungan satu aqidah, tak ada sahabat yang memanfaatkannya untuk mencari selain ridha Allah. Pemanfaatan di luar  ridha Allah, misalnya sahabat Muhajirin mengambil kesempatan mencari modal dari kaum Anshar guna kepentingan pribadi. Demikian juga, kesempatan bagi orang Anshar mempekerjakan orang Muhajirin yang miskin dengan zalim. Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar dalam rangka saling memperkuat barisan pasukan. Sedang dalam kehidupan sehari-hari keduanya saling membantu dan itu bukan tujuan.

Lebih dari itu, berkah kepemimpinan Rasulullah SAW amat meresap dalam jiwa para sahabat. Lidah, hati dan perbuatan beliau mencerminkan akhlak mulia. Lidah Nabi SAW tidak mengatakan sesuatu yang sia-sia. Beliau mengeluarkan kata-kata seperlunya dengan jelas. Suara hati beliau mampu meredam nafsu sehingga segala perbuatan beliau dikendalikan hati yang suci. Beliau bersabda,”Berbahagialah orang yang lebih banyak mengoreksi aib dirinya daripada aib orang lain.”

Pasukan Nabi SAW di Perang Badar telah terdidik untuk menjauhi maksiat, baik maksiat lisan, hati maupun perbuatan. Sebab, perbuatan maksiat menjauhkan dari pertolongan Allah SWT. Musuh-musuh Nabi SAW dan umat Islam tahu bahwa jalan untuk mengalahkan mereka yang paling jitu adalah menebarkan berbagai bentuk kemaksiatan di masyarakat Muslim. Setelah banyak dari kalangan umat Islam yang melakukan maksiat, maka mereka mudah dikuasai. Sebab, ruh keimanan mereka sudah luntur. Tinggal nama saja yang melekat pada diri mereka.

Upaya Penyebaran Kemaksiatan di Negeri Muslim

Orang-orang Islamfobi melancarkan peperangan terhadap negeri-negeri yang mayorit as penduduknya Muslim. Kemaksiatan di Indonesia, seperti pelacuran digalakkan oleh kolonialis Belanda. Prostitusi atau pelacuran tersebut sudah ada di Indonesia sebelum Belanda datang ke Indonesia. Ridwan Saidi, budayawan, mengatakan, konsentrasi prostitusi pertama di Batavia adalah di kawasan Macao Po. Disebut demikian karena pekerja seksnya berasal dari Makao, di sebuah rumah bertingkat di seberang Stasiun Beos. Mereka didatangkan oleh para germo Portugis dan China untuk menghibur tentara Belanda.

Seiring perjalanan waktu prostitusi tidak hanya berhenti di kalangan tentara Belanda, tapi menjalar di masyarakat dan dilegalisasi.

Menurut akal sehat, seberapa besar manfaat pelacuran dibandingkan dengan dampak negatifnya? Manfaatnya adalah “hiburan semu”, tapi di balik itu ada dampak negatif yang tak terperikan bagi kehormatan manusia. Belum lagi penyakit kelamin yang diakibatkan pelacuran. Sosiolog didikan Barat mengadakan telaah sosiologis, sosial dan ekonomis untuk menghalalkan prostitusi. Orang-orang materialis pun membenarkan telaah tersebut. Namun, pikiran kaum materialis tersebut sebenarnya tidak dapat mengenyampingkan kata nurani. Bila legalisasi prostitusi dikaitkan dengan ekonomi, mengapa pemerintah tidak punya tekad untuk memberikan pelatihan kerja kepada para pekerja seks komersial guna menggantikan “pekerjaan kotor” mereka? Apa sanksi bagi mereka jika sudah layak memiliki “pekerjaan baik” tapi masih melacur? Pemerintah paling bertanggung jawab dalam masalah itu.

Demikian juga dengan bentuk lahir kemaksiatan lain, seperti miras, korupsi, perjudian dan pembunuhan politik. Miras dan penyalahgunaan narkotika merusak akal. Korupsi merusak mentalitas. Perjudian menimbulkan potensi rasa dendam terhadap teman sehingga mengarah pada pembunuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s