Tahannuts

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Menciptakan… (Al-‘Alaq: 1)

Sehabis kelahiran putri Muhammad, Ummu Kultsum, banjir besar menerjang Makkah sehingga sebagian dinding Ka’bah rusak. Kabilah-kabilah Arab sepakat membangun dinding Ka’bah yang rusak tersebut.

Ketika tiba saatnya meletakkan Hajar Aswad, sebagai tempat paling terhormat di Ka’bah, antarkabilah bersitegang. Mereka saling berebut peran yang akan meletakkan Hajar Aswad. Seorang sesepuh Quraisy, Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumi berinisiatif bahwa yang paling berhak meletakkan Hajar Aswad adalah orang yang pertama kali melewati Babus Salam (Pintu Salam) Masjidil Haram. Muhammad yang pertama kali melewati pintu ini.

Muhammad ditetapkan sebagai peletak Hajar Aswad dan dia dijuluki Al-Amin (Sang Kepercayaan). Muhammad minta Hajar Aswad diletakkan di atas kain dan masing-masing wakil kabilah memegang ujung kain seraya mengangkat Hajar Aswad, lalu Muhammad yang meletakkan Hajar Aswad di dinding Ka’bah. Dengan solusi semacam ini, pupuslah ketegangan antarkabilah yang nyaris terjadi peperangan. Itulah kecerdasan intuitif Muhammad dalam mempersatukan semangat kekabilahan.

Tahannuts

Menjelang turunnya wahyu kepada Muhammad, Allah SWT memberinya kalbu bening dan jiwa cemerlang. Muhammad bukanlah tipe yang bermental materialistis dan egoistis. Dia berusaha menguak dunia ruhaniah dan penciptaan semesta alam. Kepada sang isteri, Khadijah, Muhammad hendak minta izin untuk menyendiri (tahannuts), merenung dan memikirkan keagungan ciptaan Tuhan. Muhammad hendak menghindari kemusyrikan, hedonisme dan pola hidup permisif yang melanda Makkah. Beliau memilih gua Hira, 5 kilometer dari Makkah untuk bertahannuts sebagaimana yang biasa dilakukan orang-orang yang arif maupun orang-orang Nasrani Makkah.

Masa tahannuts yang dilakukan Muhammad bevariasi, kadang lama dan kadang sebentar sesuai keadaan. Khadijah mendukung kegiatan suaminya dengan mempersiapkan perbekalan, bahkan dia yang mengantar perbekalan itu ke gua Hira’. Khadijah menduga kuat bahwa ramalan kenabian akan jatuh pada suaminya.

Pada bulan Ramadhan, 5 tahun setelah pemugaran Ka’bah, Muhammad kembali menuju gua Hira’.  Ajaran Yahudi dan Nasrani tak kuasa mengentaskan kaum musyrik dari kesesatannya. Ajaran Ahlul Kitab itu masih mengandung spekulasi yang tak mungkin sejalan dengan kebenaran sejati dari Allah.

Muhammad telah berusia 40 tahun. Tepatnya pada Senin, 17 Ramadhan 610 M ketika Muhammad sedang khusyu’  bertafakur di gua Hira’, datanglah suara menggema di seluruh dinding gua dan diiringi munculnya sosok tubuh besar yang bercahaya. Suara bergema,”Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah.”

“Wahai Muhammad, aku Jibril dan engkau utusan Allah,” sambungnya. Seraya menampakkan kepada Muhammad lembaran yang terlipat dengan kain sutra, Jibril berkata,”Bcalah!”

“Aku tak bisa membaca,” jawab Muhammad. Hal ini terjadi 3 kali. Yang keempat kalinya Jibril membacakan ayat 1-5 Surat Al-‘Alaq sambil mendekap Muhammad.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s