Pembebasan Makkah

Sesungguhnya Dzat (Allah) Yang mewajibkan kamu (Muhammad) untuk melaksanakan hukum-hukum Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah). Katakanlah (Muhammad),”Tuhanku lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk dan orang yang berada dalam kesesatan.” (Al-Qashash: 85).

Ayat di atas merupakan kabar dari Allah SWT kepada Nabi SAW bahwa Dia akan mengembalikan nabi-Nya ke Makkah. Dengan kata lain, Allah SWT akan memberikan kemenangan kepada Rasulullah SAW dengan membebaskan Makkah dari cengkeraman kaum Quraisy.

Pembebasan Makkah merupakan bagian dari peperangan yang dilakukan Nabi SAW tanpa menimbulkan korban yang berarti. Peristiwa ini terjadi pada 8 Hijriah di Makkah.

Selama masa perjanjian damai dengan kaum Quraisy, Nabi SAW memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelesaikan permasalahan dengan kaum Yahudi sebagai sekutu Quraisy paling loyal. Beliau berhasil menghancurkan kubu Yahudi. Makkah seolah terkepung oleh pengaruh kekuasaan Islam. Kabilah-kabilah Arab di bagian selatan Jazirah Arab telah menggabungkan diri dengan umat Islam, lalu menyusul kabilah-kabilah bagian utara.

Jago-jago perang Quraisy yang pernah memerangi umat Islam kini telah menggabungkan diri dengan umat Islam, seperti Khalid bin Walid dan Amr bin Ash. Sedang tokoh-tokoh penting lain telah tewas, seperti Abu Jahal, Utbah dan Syaibah. Kepada siapa mereka akan mengandalkan kekuatan?

Penduduk Makkah yang masih  musyrik mulai terpikat dengan sukses-sukses yang diraih Islam. Mereka berpikir akan kejanggalan penduduk Makkah yang masih mempertahankan kemusyrikannya, sementara banyak suku Arab sekitar sudah memeluk Islam. Lagi pula Muhammad menjadi sanjungan kaum Quraisy, tapi kenapa kaum Quraisy memusuhi Muhammad? Bukankah itu pertanda aib bagi kaum Quraisy? Bagi Nabi SAW hal itu sebagai isyarat akan menyerahnya Makkah ke pangkuan Islam.

Sebab utama Nabi SAW memasuki Makkah

Terjadilah pengkhianatan kaum Quraisy atas perjanjian damai yang telah disepakati dengan umat Islam. Antara Bani Bakr dan Bani Khuza’ah terjadi peperangan. Kaum Quraisy membantu sekutunya, Bani Bakr. Maka Bani Kuza’ah yang menjadi sekutu umat Islam, meminta bantuan kepada Nabi SAW.

Nabi SAW mempersiapkan pasukan besar. Untuk membebaskan Makkah, Rasulullah SAW hanya melakukan operasi penempatan pasukan dan tidak terjadi peperangan. Inilah taktik “menakut-nakuti” yang dilakukan Rasul SAW. Beliau memerintahkan pasukannya untuk berkemah di dekat Makkah.

Kedatangan Nabi SAW ke Makkah disambut Abbas bin Abdul Muthalib, paman beliau. Demikian pula yang dilakukan Abu Sufyan. Ketika melihat Abu Sufyan, Nabi SAW menyapa,”Belumkah saatnya bagi kamu wahai Abu Sufyan, bahwa tiada tuhan selain Allah?”

“Alangkah penyantunnya enkau, wahai Rasulullah!” jawab Abu Sufyan,”Sungguh engkau tiada akan memutuskan persaudaraan. Andaikata ada tuhan selain Allah, tentu akan mendapatkan pertolongan darinya. Inilah keyakinanku.”

Dengan begitu Abu Sufyan telah masuk Islam. Sebelum Abu Sufyan pulang  ke Makkah, Rasulullah SAW pun membawanya untuk menyaksikan pasukan Islam. Setelah memeriksa pasukan Islam, Abu Sufyan dipersilakan kembali ke Makkah. Setibanya di Makkah, Abu Sufyan menceritakan hal ini kepada tokoh-tokoh Quraisy bahwa kekuatan Islam tak mungkin dibendung! Pupuslah sudah harapan kaum Quraisy untuk mengadakan perlawanan.

Rasul SAW memerintahkan pasukan Islam untuk memasuki Makkah melalui 4 jurusan. Jubir Rasul SAW meneriakkan kata-kata,“Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman! Siapa yang masuk ke rumah sendiri dan ditutup, dia aman! Siapa yang masuk ke masjid, dia aman!”

Menang tanpa ngasorake (menghinakan musuh)

Itulah ungkapan bahwa Nabi SAW mengalami kemenangan tanpa balas dendam, dengan menghinakan musuhnya. Terbebaslah Makkah dari cengkeraman kaum Quraisy. Kaum Muslimin pun berthawaf di Ka’bah. Patung-patung, gambar-gambar maupun berhala yang berada di sekitar Ka’bah dihancurkan.

Ketika dikerubuti bekas-bekas musuhnya, Rasulullah SAW bertanya kepada mereka,”Tindakan apa yang akan kuambil atasmu, menurut perkiraanmu?”

Mereka menjawab,”Engkau, wahai Muhammad, sebagai saudara kami yang pemurah, anak saudara kami yang pemurah.” Rasul SAW menjawab,”Ya, pergilah! Kalian sekarang bebas.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s