Perjanjian Nabi SAW dengan Musuh

Kronologi Perjanjian Perdamaian

“Dialah Dzat (Allah) Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa agama yang haq, dengan tujuan agar Rasul memenangkan agama di atas ajaran-ajaran yang lain, kendati orang-orang kafir membencinya.” (As-Shaff:

Enam tahun setelah Perang Ahzab, Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin rindu untuk mengunjungi Ka’bah yang merupakan kiblat shalat mereka. Baitullah sebagai tempat yang suci dan terhormat sejak sebelum datang Islam hingga masa kenabian. Dalam bulan-bulan haram dilarang mengadakan peperangan. Maka apakah salahnya jika Nabi SAW dan para sahabatnya mengunjungi Baitullah? Nabi SAW mengizinkan 10.000 orang Islam untuk mengunjungi Ka’bah.

Agar kaum Quraisy yakin bahwa kaum Muslimin ke Makkah untuk melakukan umrah, Nabi SAW melarang para sahabat membawa senjata kecuali hanya pedang guna membela diri. Selain itu kaum Muslimin juga diperintahkan berpakaian ihram sejak meninggalkan Madinah.

Kaum Quraisy tidak mengindahkan hal itu. Mereka tak percaya akan itikad baik kaum Muslimin, kendati telah ada pernyataan bahwa umat Islam tak akan melakukan peperangan. Menurut kaum Quraisy bila umat Islam berhasil masuk ke Makkah, berarti kekalahan bagi kaum Quraisy. Oleh karena itu, kaum Quraisy mengirimkan pasukan berkuda di bawah pimpinan Khalid bin Walid guna menghadang kaum Muslimin sebelum bulan-bulan haram tiba, yaitu Dzulqa’dah, Muharram dan Rajab.

Namun, Nabi SAW dan para sahabatnya berhasil menghindarkan diri dari pasukan Khalid dengan cara melewati jalan yang tidak dilalui Khalid. Sampailah Nabi SAW di Hudaibiyah, beberapa mil dari Makkah dan masuklah bulan-bulan haram.

Untuk menghilangkan kebuntuan hubungan antara umat Islam dan kaum Quraisy, Nabi SAW mengutus Utsman bin ‘Affan ke Makkah untuk mengadakan pembicaraan dengan kaum Quraisy. Ini guna meyakinkan bahwa kedatangan kaum Muslimin hanya untuk umrah. Utsman ditahan kaum Quraisy dan tersebar kabar burung bahwa Utsman telah dibunuh kaum Quraisy.

Guna mengantisipasi “tuntutan darah” Utsman, para sahabat sepakat mengadakan bai’ah (janji setia) Ridhwan di bawah pohon. Mereka bertekad untuk berperang sampai titik kemenangan atau mati! Allah memuji sikap dan perilaku mereka sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Fath: 17,

Sungguh Allah telah meridhai orang-orang Mukmin ketika mereka mengadakan janji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Maka Dia mengetahui isi hati mereka dan menurunkan kepada mereka kemenangan yang dekat.

Perjanjian Perdamaian

Muncullah Utsman di tengah serombongan orang Quraisy. Delegasi Quraisy diwakili Suhail bin Amr. Dimulailah perundingan setelah hampir terjadi peperangan. Kesepakatan perundingan ini terkenal dengan Shulhu Hudaibiyah (Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah).

  1. Peletakan senjata antara kaum Quraisy dan umat Islam selama 10 tahun.
  2. Orang Muslim Quraisy dari Makkah yang datang ke Madinah tanpa seizin keluarganya, harus ditolak umat Islam.
  3. Kaum Quraisy tidak menolak orang Islam yang kembali ke Makkah.
  4. Siapapun yang mau membuat perjanjian dengan Muhammad maupun orang Quraisy diperbolehkan.
  5. Kaum Muslimin tak boleh melakukan umrah tahun ini, tapi tahun depan setelah kaum Quraisy keluar. Kaum Muslimin tak boleh membawa senjata kecuali pedang dan sarungnya dan tinggal di Makkah selama 3 hari 3 malam.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s