Al-Qur’an:Penerang Kehidupan dan Penggerak Revolusi

Dalam waktu kurang lebih 23 tahun Nabi Muhammad SAW dengan berpedoman pada Al-Qur’an mampu meletakkan dasar-dasar pemerintahan kekhalifahan yang berpusat di Jazirah Arab, padahal sebelumnya pemerintahan negeri ini di alam jahiliyah.  Al-Qur’an sebagai penerang kehidupan dan penggerak revolusi di masa Nabi.

Allah SWT memancarkan nur (cahaya) ke langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi. Yaitu, pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat, yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nur: 35)

Jahiliyah identik dengan kebodohan, kegelapan dan tanpa ilmu dari Tuhan. Dalam kehidupan individu, kondisi ini ditandai dengan sikap dan perilaku memperturutkan nafsu. Di masyarakat keadaan ini tercermin dalam kezaliman atau ketidakadilan antaranggota masyarakat, seperti tindakan seseorang membunuh orang lain tanpa hukuman yang adil atas pelakunya dan merampas harta orang lain tanpa dibarengi kepastian hukum atas pelaku. Pelecehan seksual tanpa dibarengi dengan hukuman setimpal. Mabuk-mabukan dibiarkan merajalela. Dalam kehidupan keluarga, dicerminkan dengan keadaan keretakan hubungan antaranggota keluarga akibat memperturutkan nafsu.

Pada dasarnya kehidupan yang tidak dipandu dengan petunjuk Allah SAW akan menjerumuskan orang ke alam jahiliyah. Itulah kondisi bangsa Arab sebelum datangnya nur Islam. Kini nur Islam telah redup dan kehidupan pun di alam jahiliyah. Hukum yang berlaku dalam sebuah negara merupakan produk akal manusia yang banyak didominasi kepentingan nafsu. Maka pada hakikatnya kondisi semacam adalah alam jahiliyah sebagaimana di zaman Arab pra-Islam.

Kapan nur Islam akan memancar? Tergantung sikap dan perilaku orang-orang Muslim. Apakah mereka bertekad memancarkan nur Islam. Terpancarnya nur Islam berpusat pada sucinya hati mereka dari berbagai penyakit, seperti penakut, pemalas, cinta dunia dan takut mati. Masing-masing individu Muslim memiliki potensi untuk memancarkan nur Islam.

Hati manusia yang penuh dosa sebelum ia bertaubat dan memperbaiki diri, berada dalam kegelapan. Ketika ia bertaubat dan beramal shalih, maka hatinya akan memancarkan nur. Beramal shalih mencakup banyak aspek kehidupan, seperti amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar, berarti hatinya menerangi kehidupan orang lain.

Nur Muhammad

Nabi Muhammad SAW digambarkan sebagai nur. Beliau adalah Al-Qur’an berjalan, Al-Qur’an dalam kehidupan. Dalam sebuah syair beliau disebut sebagai matahari dan bulan yang menyinari jagad.

Nur Muhammad mulai memancar di Makkah setelah beliau menerima wahyu dan menyampaikannya ke kaum kafir Quraisy. Kegelapan pasti kalah dengan cahaya jika kekuatan cahaya lebih besar. Kegelapan yang disertai badai angin taupan tentu akan mengalahkan cahaya yang kecil semacam lilin dan lampu minyak. Begitu besar daya cahaya yang dibawa Nabi Muhammad SAW sehingga mampu mengalahkan kegelapan yang disertai badai taupan.

Sebelum menerima Islam, kaum Quraisy hidup di alam kejahilan dan kegelapan. Mereka memeluk sebuah keyakinan, yaitu paganisme (penyembahan kepada berhala). Di Jazirah Arab juga ada sekelompok penganut agama samawi, seperti Yahudi dan Nasrani yang masing-masing diajarkan Nabi Musa dan Isa AS.   Mereka juga memiliki adat-istiadat, tata-krama, hukum-hukum dan peraturan-peraturan hidup. Ketika Islam datang, terjadilah pertarungan antara penganut Islam dengan penganut ajaran lama.

Penduduk Jazirah Arab terdiri dari 2 macam:

  1. Badui, tinggal di gurun pasir, seperti Nejed (bagian utara) dan Ahqaf (bagian selatan). Mereka mengembara dan berpindah-pindah mengikuti tempat-tempat yang berair. Unta sebagai ternak utama mereka, selain biri-biri.
  2. Kerajaan, tinggal di kota, seperti  Ghassan, Yaman, Hirah, Saba’ dan Hejaz.

Kerajaan Hirah dan Ghassan

Hirah (Manadzirah) adalah kerajaan boneka di bawah naungan bangsa Persia. Sedang Ghassan (Shasaniyah) sebagai kerajaan boneka di bawah naungan Rumawi. Latar belakang munculnya Kerajaan Hirah sama seperti Kerajaan Ghassan, yaitu masing-masing melindungi Kerajaan Persia dan Rumawi dari penyamun-penyamun suku Arab yang menetap di kawasan utara Jazirah Arab. Raja dan penduduk Kerajaan Ghassan dan Hirah berasal dari Yaman yang dipindahkan ke bagian utara Jazirah Arab.

Kerajaan Hirah berdiri sejak abad ke-3 Masehi hingga lahirnya Islam. Penduduknya banyak yang mengadakan perniagaan di Jazirah Arab. Mereka berjasa dalam pengembangan kebudayaan Arab, karena banyak mengajarkan membaca dand menulis.

Raja-raja Hirah yang terkenal:

  1. Umru ul Qais
  2. Nu’man bin Umru Al-Qais. Dia mendirikan istana Khawarnaq dan istana Sadir di awal abad ke-5 Masehi.
  3. Mindzir bin Ma’is Sama’
  4. Amr bin Hind
  5. Mundzir bin Nu’man bin Mundzir. Di masa pemerintahan raja ini, Khalid bin Walid menyerang Hirah. Kerajaan Hirah pun bergabung dengan pemerintahan Islam di Jazirah Arab.

Kerajaan Ghassan berada di bagian selatan Syam dan bagian utara Jazirah Arab. Mereka punya kebudayaan dan penganut agama Nasrani sebagai pengaruh dari Kerajaan Rumawi. Penduduk Ghassanlah yang memasukkan agama Nasrani ke Jazirah Arab.

Raja-raja Ghassan yang terkenal:

  1. Jafnah bin ‘Amr
  2. Arkam bin Tsa’labah
  3. Jabalah bin Aiham. Di masa pemerintahan raja ini terjadi perang Yarmuk dan Islam masuk ke negeri Ghassan.

Raja dan penduduk Kerajaan Hirah dan Ghassan sama-sama berasal dari Yaman. Antara kedua kerajaan tersebut sering terjadi sengketa tapal batas. Masing-masing menjalankan politik kerajaan induknya.

Skenario Allah bagi Kemenangan Rasul-Nya

Hijrah pertama. Ketika awalnya Makkah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai basis pembangunan masyarakat Islam, maka Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Di Madinah beliau membangun masyarakat Muslim. Rasul SAW dan para sahabatnya membangun kekuatan iman, mentalitas dan fisik. Penyebutan Bismillah dan Muhammadur Rasulullah di wajibkan di fase ini.

Hijrah kedua. Setelah berhasil membangun masyarakat Muslim di Madinah, Rasulullah SAW diperintahkan Allah untuk berhijrah ke Makkah. Hal ini tercermin dalam isi perjanjian perdamaian Hudaibiyah. Penyebutan Bismillah dan Muhammadur Rasulullah ditiadakan dalam fase ini. Orang Muslim di Makkah dilarang ke Madinah dan orang Muslim Madinah tak boleh pulang ke Madinah, jika sudah pergi ke Makkah. Ini menuju kemenangan agama Allah. Kota Makkah pun dikepung kaum Muslim.

Penegakan Syariat. Setelah pembebasan Makkah, Rasulullah SAW membenahi masyarakat Muslim Jazirah Arab menuju kekhalifahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s